Baturraden : Wisata alam menarik di Banyumas
Baturraden merupakan salah satu wana wisata atau wisata dengan konsep dasar hutan alami di lereng gunung Slamet, Banyumas. Letaknya yang berada di lereng gunung tersebut menyebabkan suhu udara di sanapun juga dingin dan segar dengan temperatur sekitar 18-25 an derajat celcius, tergantung kondisi cuaca. Lokasi wisata Baturraden ini berada di sebelah utara Purwokerto kira-kira lima belas menitan dari pusat kota Purwokerto. Jalur dari Purwokerto menuju tepat wana wisata Baturraden cukup bagus dan lebar serta sangat menanjak. Meskipun menanjak tajam di beberapa tempat, namun jalurnya tidak terlalu berkelok-kelok seperti saat naik ke tempat wisata alam sejenis semacam Grojogan sewu Tawangmangu di Karanganyar, Solo. Saat dijalan yang sudah dekat dengan pintu masuk ke tempat wanawisata, ada portal dimana di sana pengunjung sepertinya harus membayar untuk masuk, namun sewaktu kami lewat di portal tersebut, kami tidak ditarik biaya, mungkin penjaganya saat itu mengira kami sebagai penduduk lokal daerah sana :D , ini disebabkan oleh penduduk lokal pun juga memanfaatkan jalur ini untuk bepergian ke atau dari Purwokerto. Hal semacam Ini adalah hal biasa untuk daerah sekitar sana, seperti saat masuk ke Pantai Teluk penyu di cilacap dulu, jalannya juga dipakai oleh penduduk lokal untuk transportasi umum. Yak, ini tentu saja membuat pemasukan tidak akan maksimal.
Setelah sampai di tempat wisata Baturraden, kemudian kami mencari tempat parkir tempat parkit yang dekat dengan pintu masuk dan ternyata disamping gapura masuk tempat wisata tersebut terdapat tempat parkir yang nyaman. Setelah memarkir kendaraan, kamipun segera bergegas menuju ke tempat pembelian tiket masuk tempat wisata ini. Harga tiket masuk tempat wisata Baturraden saat itu sebesar 7500 rupiah per orang. Oya, tiket ini ternyata hanya merupakan tiket masuk tempat wisata saja. Untuk masuk ke wahana-wahana permainan dan ke tempat-tempat lainnya yang sebenarnya masih berada di satu komplek dengan tempat wisata ini harus membeli tiket lagi. Saat kami ke sana, hari Minggu pagi sekitar jam 10 pagi kemarin, wisatawan yang berkunjung di tempat wisata Baturraden ini sangat banyak dan didominasi oleh wisatawan domestik. Banyaknya wisatawan yang datang sudah pasti dikarenakan oleh saat ini bertepatan dengan masa libur sekolah sehingga tempat-tempat wisata seperti itu diserbu oleh wisatawan domestik untuk refresing bertamasya bersama keluarga sambil mengisi liburan sekolah bagi putra-putrinya. Ketika kami memasuki pintu gerbang, di kanan-kiri jalan banyak wahana bermain anak seperti kolam renang, mobil-mobilan, dan sejenisnya.
Jika kita berjalan lurus terus dari pintu masuk, maka akan dijumpai patung sepasang pria wanita yang sedang menari. Tidak jauh dari patung tersebut terdapat sungai berbatu-batu besar dan kecil dengan beberapa bagian membetuk air terjun-air terjun kecil. Karena kecilnya, mungkin lebih mirip pancuran air daripada air terjun kali ya :D . Air yang jernih yang bersumber dari air terjun kecil ini ditambah dengan suara gemercik riak air di sungai yang sedang berlomba melewati celah bebatuan cukup untuk menarik banyak pengunjung yang kebanyakan anak-anak bermain air di sungai tersebut. Di tepi sungai tampak orangtua anak-anak yang bermain di sungai tersebut mengawasi dan mengambil foto keceriaan anak-anak mereka ketika bermain air. Beberapa orang di lokasi ini yang berprofesi sebagai fotografer amatir tampak berbaur dengan wisatawan sambil antusias menawarkan jasa foto langsung jadi mereka kepada pengunjung yang datang.
Di samping sungai tersebut, pemandangan hijau terhampar alami dengan rumput dan tanaman yang teratur meliuk-liuk mengikuti jalur tangga pendakian yang terbuat dari semen ke atas bukit. Di dekat jalan ke atas bukit banyak dijumpai pedagang yang berjualan makanan seperti pecel, mendoan, sate ayam, sate kelinci, bakso, serta makanan lainnya. Mereka menjajakan sajiannya secara lesehan dengan alas tikar di atas rumput. Di beberapa tempat juga dapat ditemui penjual cinderamata di sana. Jika kita menyusuri jalan naik ke atas bukit, maka akan ada petunjuk jalan mengarah ke tempat yang banyak dikenal oleh orang yaitu pancuran pitu dan pancuran telu. Kedua tempat tersebut merupakan pemandian air panas dengan pancuran berjumlah sesuai dengan namanya yaitu tujuh pancuran untuk pancuran pitu dan tiga pancuran untuk pancuran telu. Karena saat itu kabut tebal sudah mulai turun pertanda hujan mau datang sedangkan jarak menuju ke pancuran pitu lebih jauh daripada jika kami menuju ke pancuran telu, maka kami memutuskan menuju ke pancuran telu saja.
Jalan menuju ke sana cukup lebar dengan perpaduan tumbuhan alami dan tanaman berwarna-warni yang sengaja di atur untuk memperindah jalan ke atas menuju pancuran telu . Di sebelah kiri jalan menuju ke pancuran telu merupakan bukit hijau yang tinggi sedangkan sebelah kanannya merupakan lembah curam. Oleh karena itu, sebaiknya kalau berkunjung ke sana perlu berhari-hati karena meskipun jalannya sudah diplester dengan semen, tetapi banyak ditumbuhi oleh lumut sehingga membuat jalan agak licin jika tidak menggunakan sandal atau sepatu yang tepat. Oya, jarak ke pancuran telu yang kami kira dekat dengan arah petunjuk jalan tadi ternyata juga agak jauh :D . Setelah berjalan kaki kira-kira 10 menit mendaki bukit, kemudian sampailah kami ke pintu masuk pancuran telu. Pintu masuk beupa gapura kecil yang berfungsi sebagai tempat penjualan tiket. Untuk masuk ke pancuran telu ini, kita harus membeli tiket lagi. Saat itu harga tiket masuk ke pancuran telu ini sebesar 7500 rupiah per orangnya.
Tidak jauh dari lokasi gerbang pembelian tiket tadi, dijumpai tempat mirip kolam dan tempat mirip kamar mandi tanpa atap dengan asap yang mengepul di atasnya pertanda bahwa airnya panas. Pada tempat yang mirip kamar mandi terdapat tiga buah pancuran air. Pada dinding sebelah kanan dari pancuran air tersebut terdapat tulisan yang tampak ditulis seadanya dengan tulisan “di sini pancuran telu”. Tampaknya pancuran telu memang difungsikan sebagai wisata pengobatan atau wisata terapi dengan memanfaatkan air panas berkandungan belerang yang secara alami keluar lewat ke tiga pancuran tersebut. Di dekat tempat pancuran tersebut juga banyak dijumpai penjual lumpur belerang untuk dijadikan obat dan juga penjual jasa semacam refleksi dengan belerang. Tampak juga ada persewaan celana pendek bagi orang yang tidak membawa celana pendek dan ingin mandi di sana. Karena saat itu mulai cukup gelap dan kabut mulai turun padahal saat itu masih belum ada jam 12 siang, maka kami memutuskan untuk kembali ke tempat di samping sungai yang banyak penjual makanan untuk sekedar mencoba makanan di sana. Di sana kemudian kami mencoba sate kelinci yang seporsinya seharga hanya 15 ribu rupiah dengan isi sate kelinci 10 tusuk yang disajikan bersama kupat dan bumbu sambal kacang. Rasanya si biasa saja dan menurutku masih kalah dibanding dengan sate kelinci yang ada di Tawangmangu.
Setelah itu kami kemudian kembali pulang dengan sebelumnya makan es duren dulu di daerah gor Purwokerto
.
9 Jul 2010 at 1:25 pm
Tempatnya recommended untuk yang punya anak kecil usia sekolah
10 Jul 2010 at 6:07 pm
Betul, banyaknya tempat permainan memang cocok untuk anak-anak usia sekolah